Suzuki Thunder 125: permulaan baru Thundie, sang putra petir

thundie2Tahun 2006, kisah perjalanan Thundie sang putra petir, sebuah sepeda motor Suzuki Thunder 125, dimulai.

Bermula dari kunjungan rider ke beberapa dealer pabrikan motor, Honda, Yamaha, dan Suzuki, yang berlokasi dekat kontrakan. Rider terkesima dengan tampilan Suzuki Thunder 125 yang terparkir di etalase showroom dealer Suzuki. Desain motor batangan sport-touring yang menunjukkan kelaki-lakian yang kental, terkesan gagah. Model yang klasik namun ciamik, boleh diadu dengan motor batangan pabrikan lainnya.

Cukup lama rider mengamati Thunder 125 yang terpampang tersebut. Rider memperhatikan speedometer dan tachometer yang terpasang. Desain jarum analog yang cukup ciamik, walaupun secara keseluruhan tidak bisa dibilang mewah.

Saat itu juga rider langsung menghampiri counter sales di dealer Suzuki tersebut.

“Mbak, boleh lihat daftar harganya, untuk Thunder 125 itu harganya berapa ya?”, tanya rider.

Sales Suzuki yang sedang bercakap-cakap dengan rekannya memandang rider sejenak, kemudian mengambil brosur tabel harga yang komplit beserta cicilan financing Adira.

“Wah, lumayan juga ya harganya tidak terlalu mahal, 13.8jt rupiah. Kayaknya bebek malah lebih mahal dari Thunder ini? Bagus nggak yah?”, tanya rider setelah mengamati brosur harga Suzuki tersebut.

“Iya mas,”, ujar sales tersebut, “mas mau ambil kredit atau cash?”, sambung sales itu lagi.

Rider terdiam sejenak. Memang, secara harga, masih lebih murah daripada bebek, apalagi Honda Supra-X yang harganya saat dicek sebelumnya, sekitar 15 jutaan. Apa boleh buat, dengan tabungan kurang dari 2,5jt di pertengahan bulan, rider memang sudah berencana untuk mencicil saja motor apapun yang hendak dibeli. Namun sempat terhenyak dengan besar DP paling rendah, yaitu 2 jt rupiah. Sepertinya akan agak berat sisanya untuk ongkos ngantor selama 2 mingguan ini. Entah mungkin harus bersabar untuk membeli bulan depan, atau meminjam kekurangan dananya kepada kenalan.

“Cicilan aja sepertinya mbak. Tapi DP paling murahnya 2 jt ini ya?”, tanya rider.

“Oh kebetulan mas, sedang ada diskon DP sebesar 1 jt, sehingga DP untuk yang 2 jt jadi hanya 1 jt”, sahut sang sales.

Rider kaget bukan kepalang. Hanya 1 jt rupiah saja DPnya? Cocok sekali dengan kondisi tabungan rider saat itu. Dengan sisa sebesar hampir 1,5 jt rupiah, tentunya tidak akan ada masalah mengenai dana transport hingga akhir bulan.

Setelah berpikir-pikir, berdiskusi dengan sales, serta mengamati lebih lanjut Suzuki Thunder 125 yang terpajang, rider akhirnya mengiyakan untuk mengambil cicilan 3 tahun, dengan DP bersih sebesar 1 jt.

“Baik mas, minta fotokopi KTP dan alamat, nanti akan ada yang survei dari Adira. Nah, setelah survei, baru kami kirimkan motornya”, sahut sales Suzuki tersebut menutup transaksi.

Kurang dari 2 minggu kemudian, sebuah Suzuki Thunder 125 silver, Thundie, sudah tiba di kontrakan. Tidak disangka ada produk Suzuki Thunder 125 yang cocok di kantong, yang bahkan lebih murah dari beberapa tipe sepeda motor bebek. Tentunya juga akan lebih meringankan biaya transportasi, dibandingkan dengan kendaraan umum yang rider gunakan sebelumnya. Terima kasih Suzuki dan Adira Finance!

Advertisements

One thought on “Suzuki Thunder 125: permulaan baru Thundie, sang putra petir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s