Why I chose (to kept using) my Thunder 125

Tidak terasa, 6 tahun sudah, usia Thundie, Suzuki Thunder 125 yang telah menemaniku commute di belantara raya Jakarta ini.

t125Bila ditelusuri, mengapa dulu memilih Thunder 125? Tentu saja, kebutuhan untuk commute, sebagai sarana transportasi untuk mencari nafkah. Cukup kaget dengan harga relatif murah yang ditawarkan. Saat itu harga motor batangan lain seperti Tiger atau Ninja, terpaut lebih tinggi cukup jauh. Tampilannya saat terparkir di dealer Suzuki pun tidak jelek. Dengan modal 1jt — DP 2jt dengan diskon 1jt, sudah bisa diantar ke rumah. Gres, mulus, hati pun senang.

Sekarang, 6 tahun kemudian, tidak ada perubahan. Motor yang digunakan untuk commute tetap Thundie ini. Walaupun sudah mulai menua, akselerasi maupun performa masih tetap segar setiap kali selesai servis berkala.

Sementara, beberapa kawan sesama kolega pengguna Thunder 125 sudah mengganti motornya beberapa tahun yang lalu. Mengapa rider tidak ikut mengganti?

Pertanyaan selanjutnya yang muncul di benak rider adalah, mengapa harus mengganti? Agar lebih kencang, sehingga waktu commute lebih sebentar kah? Agar lebih irit kah? Agar lebih gaya kah? Alasan-alasan tersebut sulit diterima oleh rider. Menurut rider, Suzuki Thunder 125 baik-baik saja selama ini, terutama penggunaan untuk commute sehari-hari. Tidak pernah ada masalah, apalagi yang serius.

Rider pun berpikir lebih lanjut. Seandainya mengganti motor baru? Motor apa yang diharapkan? Vixion, sepertinya terlalu kecil untuk rider, yang berbadan tinggi besar. Honda Tiger, dari awal rider kurang menyukainya, terutama karakteristik mesin GL-nya. Ninja 150R, keren tapi sepertinya hari gini sudah tidak zaman lagi cari-cari oli samping, belum lagi mengurus radiator apabila nanti sudah berumur.

Alasan yang cukup masuk akal adalah mengganti atau menambah dengan motor matic. Tidak perlu oper gigi, cukup digas, sambil terbengong-bengong, sampailah di tujuan. Setidaknya itulah review penting dari motor matic yang pernah saya dengar. Tetapi motor matic apa yang cocok? Tanpa embel-embel perawatan yang rumit? Pilihan yang sulit.

Akhirnya, rider tidak mengambil keputusan untuk mengganti Thundie. Karena mengapa harus diganti?

Advertisements

4 thoughts on “Why I chose (to kept using) my Thunder 125

  1. Setuju buaanget, yang dulu mas bro alami sama persis dengan yang saya alami sekarang. Yup…..bulan ini saya mau ambil thundie u/ commute sehari2. kagak perlu kenceng tapi nyaman.

  2. Ane males pake matic ane soalnya kurang stabil, apalagi klo ada angin kenceng. Lebih enak pke Thunder, gak usah pake kebut-kebutan deh, yang penting stabil, 80-90 km per jam dah cukup en yg penting gak limbung klo angin kenceng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s