Seperti apa rasanya commuting dengan kereta?

keretaBukan, gambar ini bukan diambil oleh rider saat menaiki kereta untuk commute. Gambar ini diambil oleh salah seorang rekan rider, yang setiap hari menggunakan jasa kereta untuk commute dari rumahnya di Bogor, ke Kuningan, Jakarta.

Ingin tahu, rider pun bertanya lebih lanjut mengenai seperti apa commute yang dilakukan rekan tersebut, setiap hari. Rekan rider berangkat dari rumahnya di Bogor jam 6:00, ke stasiun, menggunakan angkot. Tiba di stasiun, ia mengantri dan membeli tiket, untuk keberangkatan kereta kurang lebih jam 7.00.


Setelah perjalanan ke stasiun tujuan di Jakarta, rekan rider tersebut melanjutkan perjalanan dengan mikrolet. Akhirnya sampai di kantor jam 9:00. Kurang lebih 3 jam perjalanan untuk berangkat dari rumahnya ke kantor, setiap hari.

Bagaimana dengan pulang kantor? Kurang lebih memakan waktu yang sama, menurut rekan riders. Malah terkadang lebih lama sekitar 30 menit s/d 1 jam, tergantung cuaca, sehingga berkisar 3,5 jam. Namun ada yang lebih mengganggu menurutnya, apabila saat berangkat, penumpang kereta rata-rata berpakaian rapi dan wangi, lain halnya dengan saat pulang kantor. Walaupun sama-sama penuh sesak dan harus berdiri selama kurang lebih 1,5 jam perjalanan, rekan mengeluhkan kondisi bau ketiak yang tidak sedap setiap saat pulang kantor.

Total waktu yang dibutuhkan rekan rider untuk commute setiap hari adalah sekitar 6,5 jam.

Resiko apa lagi selain berjejal dan harus berdiri selama perjalanan kurang lebih 1,5 jam? Tentunya resiko penyebaran kuman penyakit. Di musim pancaroba, tidak jarang banyak penumpang yang batuk, pilek, bersin. Ditambah dengan kondisi berjejal selama 1,5 jam, penyebaran virus dan bakteri berlangsung dengan sangat mudah. Tak heran rekan rider tersebut sering mengalami batuk pilek, hingga 2 kali dalam sebulan, disamping harus mengurut kakinya yang pegal-pegal setiap wiken.

Rider sempat berpikir, walaupun harus commute sekitar 2 jam menggunakan sepeda motor setiap hari, tetapi tidak harus mencium bau ketiak, selain resiko tertular wabah penyakit yang lebih rendah. Memang pilihan menjadi rider adalah sebuah keuntungan.

Advertisements

2 thoughts on “Seperti apa rasanya commuting dengan kereta?

    • Turut berduka masbro. Hati-hati, jangan ngebut. Semakin ngebut semakin berbahaya efeknya, semakin ngebut semakin tinggi juga konsentrasi yang dibutuhkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s